Warkat Belantara
Kesunyian mencambuk diantara yang aku rasa
Hingga setetes luka yang tak ku jilati perihnya
Meronta jadi bingar pun terdengar sangar
Membakar dan menebar buaian api yang berkobar
Menepis tangis yang meleburkan hati sampai teriris
Menjadi keping - keping diantara puing yang berserakan
Gemuruh menggelegar riuh
Bumi hangus karena haus ditelan arus
Peluh bersimbah darah yang tercurah berpuluh - puluh
ribu dalam satu malam
Kupadamkan hati rakyat yang laknat
Gurat diwajah ku bekas keparat
Kurajai berkali - kali seperti
reinkarnasi yang tak mati - mati,
dan terus terlahir kembali
Duta yang berdusta pada mereka yang tak berdaya
Celaka menimpa pada durjana
Dalam neraka belantara, tak jeda hingga jera
Fatwa yang fana, jadi mereka yang tercela
Seyogyanya tinggalkan saja dunia ini, selamanya
pekanbaru, 14 juli 2004
Diposting oleh Pirawa di 21.35 17 komentar
sudut
Ada rasa yang selalu bertahta melalui rongga dada
Remukkan secuil penyesalan lalu melompat kearah buta
Ketiga air mata punya sesuatu yang pelik dan pahit
Ubah ku sesal asa meradang menendang hulu hati
Tatkala bermain dengan maya semu suatu prosa kegilaan
Ku tulis dalam dalam, dalam dimensi yang kelam
Ajuan pena kutusuk secarik kertas hingga tenggelam
Di kala malam temaram oleh syair kelam
Hanya terdiam terbata menganga’ kebisingan kota yang buram
Sadar ku ingatkan kisah yang telah lama pergi
Yang tak satu pun kuharapkan semua terjadi kembali
Emosi, intuisi, dan ekspresi diri
Berkabut termangut ketika ku tersudut
Diantara tiga belas ruang yang kosong yang hanya hampa mengisi kesendirian yang lupa akan berita dari muka yang luka yang terlara duka meraja rela saat kucipta ombak yang menyapa kita terlena.
Binar mata terpancar benar hingga takkan pudar ia bersinar
Dimana waktu jantung berdebar,
Aku gemetar dan akankah akhirnya ini akar bergetar
Sungguh aku tak tahu bahwa itu benar…
Diposting oleh Pirawa di 18.25 0 komentar
Tak Ku Lihat
Aku tak tahu apa yang sedang kau bicarakan
Hatiku kini mati untukmu
Sejuk malam, nyamuk malam, serta merta gelapan malam
Aku hanya beralaskan sejadah cinta
Tak bernaung namun tak hampa hati ini
Rata bawah tanah penuh debu bergeliat liat
Tak kusangka anggrek liar yang dulu kusemai
Kini...
Mekar segar dan tak pinta akan terkulai lunglai
Aku, mulai kini bercakap-cakap dan berkata-kata demi kata
Bercuap-cuap mulai menyuap tak peduli gelap
Ku kira kau akan menggantungkan sajak ku di kamarmu
Melihat dan membaca tiap waktu goresan hatiku
Namun mata ku tak indah yang melihat semua itu
Aku kira kau akan melihatku setiap saat dikamarmu
Tapi, aku tak rasa demikian
Karena aku tak merasa engkau tersenyum untukku
Ketika kau tak melihatku setiap waktu
Saat tak bernaung disisi mu
Aku pandai berkata-kata demi kata yang tak pernah kuharapkan itu indah
Tapi aku tak pandai membuatmu mengerti aku
Karena aku slalu coba tuk mengertikan mu
Walau terkadang aku agak sedikit bodoh.....
Pukul Tiga Subuh...1enam 1dua nol7
Diposting oleh Pirawa di 18.19 0 komentar
Diantara Jendela
Diantara Jendela
“kepada seluruh golongan munafik yang memakai topeng kehormatan”
Kau berdiri diantara kekasih gelapmu
Kau bertajuk dalam nama nistamu
Kau berpagut hingga ruang kosong menatapmu
dan kaupun mengerang membabi buta
Diantara jendela…
Letih ku mengintai-ngintai kemana roh ku
bersembunyi
Darah mengalir…
Nanah berdesir…
Halus… mengikuti derap kegetiran asa
Melambai gontai melerai badai
Menghalau parau suara azdan bergeming di ujung surau
Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Diantara jendela
Letihku bosan mengecap yang itu-itu saja
Apa tak ada lagi derita berserakan ?
Apa mungkin anjing penjilat berhenti
menjulurkan lidah aibnya ?
Kurasa kaupun kembali menjilati kebodohan mu
Menjilati seluruh najis yang terasa asyik
untuk kau kecapi…
Pekanbaru 13-12-06
Diposting oleh Pirawa di 06.00 1 komentar